Sabtu, 31 Desember 2016

Pohon Inang Favorit Epifit di Kawasan Rowo Bayu, Kec.Songgon, Banyuwangi
Maryam A.L. November , 14 2016. Malang

Apa epifit itu? Sebagian besar orang-orang menjawab anggrek dan paku. Namun sebenarnya tidak hanya itu, ada banyak tumbuhan yang dapat diklasifikasikan ke dalam epifit, antara lain lumut, jamur, lichen dan lain-lain. Tumbuhan epifit tumbuh menumpang pada pohon inangnya dan bukan tergolong tumbuhan parasit. Untuk pertumbuhannya, tumbuhan epifit dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor iklim dan pohon tempatnya menempel atau biasa disebut pohon inang epifit.  Akan tetapi pembahasan , kali ini akan lebih mengarah pada pohon inang dari tumbuhan epifit.
Epifit banyak dijumpai di berbagai pelosok negeri. Salah satu tempat yang bagus untuk eksplorasi tumbuhan epifit adalah kawasan Roro Bayu Banyuwangi. Tidak banyak orang mengetahui daerah tersebut, karena tempatnya yang masih asri dan dekat dengan hutan sekunder. Rowo Bayu sendiri terbagi menjadi tiga lokasi, pertama adalah pemukiman warga setempat, kedua adalah lahan Agroforestri yang dikelola oleh Dinas Perkebunan dan yang ketiga adalah wilayah Hutan Sekunder yang dikelola oleh Perhutani. Di kawasan Rowo Bayu banyak dijumpai tumbuhan epifit. Pohon inang dari epifit yang ditemukan berbeda-beda sesuai dengan lokasinya, sebagian besar epifit menempel pada pohon tua yang tinggi dan berdiameter batang yang lebar, sehingga semakin besar pohon inang, maka akan semakin banyak tumbuhan epifit yang ditemukan dalam satu pohon tersebut. pengukuran diameter batang pohon epifit dapat dilakukan dengan menggunakan meteran (Gambar 1)


 

                           Gambar 1. Pengukuran diameter batang pohon inang epifit

Di Kawasan Rowo Bayu, lokasi Hutan Sekunder merupakan tempat yang paling cocok untuk tumbuh bagi epifit dibandingkan dua lokasi lainnya. Hal tersebut dikarenakan Hutan Sekunder merupakan habitat asli dari tumbuha epifit. Di lokasi tersebut, pohon inang yang ditumbuhi oleh epifit juga bermacam-macam, antara lain Ficus sp., Papilionaceae, Athocarpus sp. (Bendo), Euphorbiaceae, Quercus. L. (Pasang) dan lain-lain. Pohon-pohon tersebut merupakan tumbuhan lokal asli dari wilayah Indonesia. Berbeda dengan lokasi Agroforestri yang umumnya ditumbuhi oleh pohon Pinus (Pinus merkusii) dan Mahoni (Swetenia Mahagoni), dimana pohon Mahoni bukan merupakan pohon lokal asli Indonesia, sehingga tidak banyak ditemukan tumbuhan epifit yang menempel pada pohon tersebut. Sedangkan untuk lokasi pemukiman warga, banyak dijumpai tumbuhan epifit. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar warga sekitar mengambil tumbuhan epifit dari hutan sebagai hiasan di rumahnya (Gambar 2)
  



                     Gambar 2. Pohon rambutan sebagai inang epifit yang ditanam warga

Dari pengamatan yang dilakukan, diketahui ciri-ciri dari pohon inang yang banyak ditumbuhi oleh tumbuhan epifit, antara lain adalah pohon telah dewasa (semakin tinggi batang, dan semakin lebar diameter batang, maka akan semakin banyak ditumbuhi tumbuhan epifit), tinggi batang antara 3-40 m, diameter batang antara 8-160 cm dan umumnya dengan percabangan simpodial. Selanjutnya adalah permukaan batang pohon. Tumbuhan epifit umumnya tumbuh pada permukaan batang pohon yang kasar (Gambar 3). Selain itu tumbuhan epifit akan mudah tumbuh pada tumbuhan lokal (asli Indonesia). Zonasi pertumbuhan epifit pada pohon inang juga berpengaruh. Berdasarkan letak tumbuhnya pada pohon inang, pertumbuhan epifit dibagi menjadi beberapa zonasi yaitu zonasi satu sampai dengan lima. Zonasi 1 yaitu pada bagian batang bawah, zonasi dua yaitu bagian batang tengah sampai bertemu percabangan yang pertama. Zonasi tiga pada percabangan pertama sampai kedua. Zonasi 4 pada percabangan kedua dan seterusnya dan Zonasi 5 pada ujung. Hasil pengamatan di Kawasan Rowo Bayu yang telah dilakukan menunjukkan bahwa zonasi 2 merupakan lokasi terbanyak pada pohon inang yang banyak ditumbuhi oleh epifit. Sedangkan zonasi 5 yang paling sedikit. Selain itu faktor abiotik juga mempengaruhi pertumbuhan epifit. Semakin tinggi intensitas cahaya, maka semakin sedikit tumbuhan epifit yang ditemukan, dan semakin tinggi kelembaban udara, maka semakin banyak tumbuhan epifit yang ditemukan. Hal ini sesuai dengan banyak sedikitnya tumbuhan epifit yang ditemukan di daerah Rowo Bayu.

                                 


  
                                       Gambar 3. Permukaan batang pohon inang epifit



















#RowoBayu, Banyuwangi
#Team (Purnomo, Maria Florentina D.Bhoke., Maryam Ade Lina, Apriv Kukuh Azzahra, Rodliyati Azriyaningsih, Kiswoyo)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar